2.1.1
Definisi
ganggren
Ganggren adalah kematian jaringan bagian tubuh. ()
Kaki diabetes adalah kelainan tungkai kaki bawah
akibat diabetes melitus yang tidak terkendali
(Soegondo, 2009)
2.1.2
Etiologi
Kuman penyebab ganggren
adalah Clostridium Welchii (Clostridium perfringens). Kuma ini
merupakan flora normal usus, bersifat anaerob, dan termasuk dalam golongan basil Gram positif. Kuman yang membentuk
spora keluar bersama tinja dan terdapat dikulit di seluruh bagian tubuh dan
juga di tanah. Spora ini tahan kering, tahan beberapa desinfektan, dan tidak
selalu mati dalam air mendidih. (Jong & Sjamsuhidayat, 2004)
2.1.3
Gambaran
Klinis
Gambaran
lokalnya mula-mula berupa tanda inflamasi akut yag sangat cepat menyebar,
membuat keadaan umum pederita sangat buruk. Nyeri yang sudah jelas pada hari
pertama,merupakan tanda dini. Krepitasi, tanda adanya gas di jaringan, mungkin
ada, tetapi kadang tidak nyata.
Penderita tampak pucat,capai dan lemah, apatis,
berkeringat dingin, tidak berdaya, demam, dan sesak nafas. Denyut nadi kecil
dan cepat, dan suhu idak terlalu tinggi, jarang melewati 38,5’C pada hari
pertama. Fhoto rontgen dapat memperlihatkan gambaran khas karena adanya udra
bebas dalam jaringan otot yang tampak seperti bulu burung, sedangkan
pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukositosis jelas dan basil gram positif
pada cairan luka (Jong &
Sjamsuhidayat, 2004)
2.1.4
Faktor-Faktor
Yang Berpengaruh Atas Terjadinya Ganggren Dibagi Menjadi Faktor Internal Dan Eksternal
2.1.4.1 Faktor
internal
1.
Angiopati diabetik
Angiopati diabetik akan menyebabkan tergangunya
aliran darah ke kaki. Apabila sumbatan darah terjadi pada pembuluh darah yang
besar maka penderita akan merasa sakit tungkainya sesudah berjalan pada jarak
tertentu, ujung kaki terasa dingin, nyeri kaki dimalam hari dan denyut arteri
hilang, kaki lebih pucat bila dinaikkan (Misnadiarly, 2006)
2.
Neuropati diabetik
Neuropati akan menghambat signal, rangsangan atau
terputusnya komunikasi dalam tubuh, syaraf pada kaki sangat penting dalam
menyampaikan pesan ke otak, sehingga menyadarkan kita akan adanya bahaya pada
kaki, misalnya rasa sakit atau tertusuk paku atau rasa panas saat terkena
benda-benda panas. Kaki diabetes dengan neuropati akan mengalami gangguan
sensorik, motorik, dan otonomik
a.
Neuropati sensorik ditandai dengan
perasaan pada baal atau kebal (parastesia), kurang berasa (hipestesia),
terutama ujung kaki terhadap panas, dingin, dan sakit, terkadang disertai rasa
pegal, dan nyeri di kaki
b.
Neuropati motorik ditandai dengan
kelemahan sistem otot, otot mengecil, Mudah lelah, kram otot, deformitas kaki
(Charcot), ibu jari seperti palu (hammer toe), sulit mengatur keseimbangan
tubuh
c.
Saraf otonomik pada kaki ditandai dengan
kulit menjadi kering, pecah-pecah dan tampak mengkilat, karena kelenjar
keringat di bawah kaki berkurang (Soegondo, 2009)
2.1.4.2 Faktor
eksternal
1.
Trauma
Pengurangan maupun hilangnya sensasi nyeri pada kaki
dapat menyebabkan tidak diperhatikannya trauma akibat pemakaian sepatu dan kuku
jari yang cacat, deformitas kaki merupakan hal yang umum terjadi, dengan atrofi
otot-otot kecil pada kaki, jari kaki yang mencengkram dan penonjolan kaput
metatarsal, trauma berulang, khususnya tekanan yang berkepanjangan dapat menyebabkan
ulserasi pada telapak kaki terutama dibawah kaput tulang metatarsal pertama
diatas pembengkakan pada jari kaki yang membesar dan diatas tonjolan tulang
jari kaki (Morison, 2003)
2.
Infeksi
Penurunan sirkulasi darah pada daerah kaki akan
menghambat proses penyembuhan luka, akibatnya kuman masuk ke dalam luka dan
terjadi infeksi, Peningkatan kadar gula dalam darah akan menghambat kerja
leukosit dalam mengatasi infeksi, luka akan menjadi ulkus gangren dan terjadi
perluasan infeksi sampai ke tulang (osteomielitis). Kaki yang mengalami ulkus
ganggren luas sulit untuk di atasi, yang memerlukan tindakan amputasi
(Soegondo, 2009)
2.1.5
Klasifikasi
ganggren
Klasifikasi
ganggren menurut wegner
2.1.5.1 Grade
0 tidak ada luka
2.1.5.2 Grade
1 ulkus dengan infeksi yang superficial
2.1.5.3 Grade
2 ulkus yang lebih dalam sampai ke
tendon dan tulang tetapi terdapat infeksi yang minimal
2.1.5.4 Grade
3 ulkus yang lebih dalam sampai ke tendon, tulang dan terdapat abses dan
osteomyelitis
2.1.5.5 Grade
4 ulkus dan menimbulkan ganggren lokal pada jari-jari kaki atau kaki bagian
depan.
2.1.5.6 Grade
5 lesi/ulkus dengan ganggren dseluruh kaki
2.1.6
Pengobatan
2.1.6.1 Keadaan
umum: Cairan dan elektrolit
2.1.6.2 Penisilin
intravena
2.1.6.3 Debrideman
dan penyaliran
2.1.6.4 Antitoksin
2.1.6.5 Zat
asam hiperbarik
Klostridium peka terhadap penisilin maka penisilin
dosis tingggi harus diberikan secara intravena. Kemudian dianjurkan tindak
bedah darurat karena keadaan umum akan segera memburuk dengan menyebarnya
toksin. Penyaliran dilakukan setelah debrideman, yaitu pengeluaran benda asing
dan ssegala jaringan mati atau kotoran dari luka sehingga yang tinggal hanya
jaringan yang baik peredaran darahnya (Jong & Sjamsuhidayat, 2004)
2.1.7
Pencegahan
Perawatan luka
yang baik, pembuangan jaringan nekrosis secara radikal, pencegahan iskemia
jaringan, pembuangan benda asing merupakan upaya pencegahan terjadinya gas
ganggren dan ganggren aerob lainnya. Anti toksin dari C Welchii dapat diberikan
pada luka yang cenderung mendapat infeksi ganggren gas (Jong & Sjamsuhidayat, 2004)
Upaya
pencegahan antara lain
2.1.7.1 Edukasi
kesehatan DM, komplikasi dan perawatan kaki
2.1.7.2 Status
gizi yang baik dan pengendalian DM
2.1.7.3 Pemeriksaan
berkala DM dan komplikasinya
2.1.7.4 Pemeriksaan
berkala kaki penderita
2.1.7.5 Pencegahan/perlindungan
terhadap trauma-sepatu khusus
2.1.7.6 Higiene
personal termasuk kaki
2.1.7.7 Menghilangkan
faktor biomekanis yang mungkin menyebabkan ulkus (Soegondo, 2009).
2.1.8
Perawatan
Kaki
Perawatan
kaki merupakan sebagian dari upaya Pencegahan pada pengelolaan kaki diabetik
yang bertujuan untuk mencegah terjadinya luka (Soegondo, 2009), dibawah ini ada
teknik perawatan kaki untuk mencegah terjadinya ulkus.
1.
Periksa kaki tiap hari terutama terhadap
adanya perlukaan, infeksi, dan pecah kulit, melepuh, cantengen, mata ikan,
kapalen, kutil, dan lain-lain
2.
Periksa kaki dengan menggunakan sabun
yang lembut dan air hangat 37’C pada pagi hari dan menjelang tidur
3.
Keringkan dan bersihkan selalu kaki
terutama pada sela-sela jari dengan menggunakan handuk bersih
4.
Gunting kuku tiap hari dengan arah
mendatar dan lakukan setelah mandi karena masih lunak
5.
Beri pelembab (moisturizer) pada kaki yang terlalu kering
6.
Selalu gunakan sandal untuk mencegah
terjadinya perlukaan
7.
Gunakan kaos kaki dari bahan serat
alami, katun atau wool, dengan ukuran pas dan tak berlubang
8.
Apabila menggunakan stoking (pada
wanita), pilih yang tidak terlalu ketat dan tidak terlalu tinggi karena akan
menghambat sirkulasi. Usahakan saetiap hari untuk ganti dengan bersih
9.
Pilih sepatu yang pas, berbahan lembut
terbuat dari kulit dan menutup semua bagian kaki. Apabila sepatu baru, kontrol
bagian dalam sepatu sebelum kaki dimasukkan dan lepas 2 jam sehari dalam 2-3
bulan pertama sebelum digunakan secara normal. Hindari sepatu berbahan plastik (Sutedjo,2010)
10. Segera ke dokter bila kaki mengalami luka
11. Periksa kaki ke dokter secara rutin
2.1.9
Hal-Hal
Yang Perlu Dihindari Yang Bisa Membahayakan Kaki
2.1.9.1 Jangan memanasi kaki dengan aliran listrik dan air
hangat karena akan beresiko terbakartanpa terasa
2.1.9.2
Jangan mengiris
kapal pada kaki (kalus) dan korn dengan menggunakan gunting atau silet
Kalus adalah penebalan
kulit dan pengerasan pada bantalan telapak kaki atau sisi luar ibu jari kaki
akibat gesekan atau tekanan yang lama
Korn adalah penebalan
kulit pada punggung jari kaki akibat dari tekanan dan gesekan yag lama dan
berlebihan, berbentuk bulat, keras di bagian tengahnya dan lunak di bagian
tepinya
2.1.9.3
Jangan menggunakan
sikat atau pisau untuk membersihkan kaki
2.1.9.4
Jangan membiarkan
adanya luka walau sekecil apapun
2.1.9.5
Jangan memakai
sepatu dan kaos kaki yang sempit
2.1.9.6
Jangan menggunakan
obat-obat untuk luka kaki tanpa
rekomendasi petugas kesehatan (Sutedjo,2010)
Soegondo, (2009). Penatalalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.
Balai Penerbit Jakarta: FKUI
Misnadiarly,
(2006). Diabetes Militus,
Jakarta:Pustaka Populer Obor
Marison Janoya, (2003). Manajemen Luka. Jakarta: EGC
Sutedjo, (2010). 5 Strategi Penderita Diabetes Melitus
Berusia Panjang. Yogyakarta:
Kanisus